Total Tayangan Halaman

Logo

MultiHoster

Asma'ul Husna

Mutiara Al - Qur'an

Mutiara Hadits

Kalender Hijriyah


Jadwal Adzan

Info Palestina

Tutorial Blog PDML

Rabu, 25 Juli 2012

MEMBACA AL-QURAN DALAM SATU SURAT PADA WAKTU SALAT TERBALIK URUTANNYA, MEMBACA “SAYYIDINA” DALAM SHALAT PADA WAKTU TAHIYYAT DAN MENJELASKAN HADIS DENGAN AYAT AL-QURAN

 
 
MEMBACA AL-QURAN DALAM SATU SURAT PADA WAKTU SALAT TERBALIK URUTANNYA, MEMBACA “SAYYIDINA” DALAM SHALAT PADA WAKTU TAHIYYAT DAN MENJELASKAN HADIS DENGAN AYAT AL-QURAN

Pertanyaan:

1.      Bagaimana hukumnya imam dalam salat jamaah membaca al-Quran dalam satu surat terbalik urutannya? Dalam rakaat pertama membaca:
آمَنَ الرَسُوْلُ بِمَا أُنْزِلَ  sampai denganفَانْصُرْنَا عَلَي اْلقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ [الْبَقَرَةُ : 285-286]
Pada rakaat kedua membaca:
وَ إِذاَ سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي  sampai denganلَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ [البقرة: 186]

2.      Dalam rubrik khutbah Jum’at yang dimuat SM banyak dijumpai bacaan salawat:
وَ الصَّلاَةُ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Bolehkah bacaan salawat seperti itu dibaca dalam salat ketika duduk tahiyat?

3.      Dalam SM no 23 tahun 2009 khutbah yang disampaikan Kusun Dahari dituliskan hadis:
إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Hadis itu ditafsirkan dengan ayat al-Quran surat an-Nisa ayat 9 :
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Pertanyaannya; Apakah boleh hadis Nabi diperjelas dengan ayat al-Quran seperti termuat juga dalam khutbah Jum’at SM no. 4 tahun 2010? Penulis pernah mendengat pendapat yang mengatakan haram hal itu.

Pertanyaan Dari:
Nyak Mat, NBM 874.346,
Ketua PR Muhammadiyah Kauman Pisang Labuha
Desa Ujung Batu Kec. Labuhan Haji Aceh

HUKUM TAQLID, DOA IFTITAH DAN SHALAWAT KHUTBAH JUM'AT

HUKUM TAQLID, DOA IFTITAH DAN SHALAWAT KHUTBAH JUM'AT

Pertanyaan:
1.      Pengertian taqlid, hukumnya serta beramal dengan taqlid
2.      Apa benar orang yang selama hidupnya terus menerus membaca doa iftitah “Allahumma baa‘id …” dianggap taqlid?
3.      Kenapa bacaan shalawat dalam khutbah Jum‘at yang dimuat pada Majalah Suara Muhammadiyah tidak sama dengan bacaan shalawat yang tertulis dalam HPT?
Penanya:
Nyakmat, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kauman,
Pisang, Labuhan Haji, NAD
Jawaban:
1.      Tentang Taqlid
a.       Pengertian Taqlid
Kata “Taqlid” adalah kata dalam bahasa Arab, yang berasal dari kata تَقْلِيْدٌ (taqlid), yaitu: قَلَّدَ (qallada), يُقَلِّْدُ (yuqallidu), تَقْلِيْدًا (taqliidan). Artinya bermacam-macam tergantung kepada letak dan pemakaiannya dalam kalimat. Adakalanya kata “taqlid” berarti “menghiasi”, “meniru”, “menyerahkan”, “mengikuti” dan sebagainya.
Para ulama Ushul mendefinisikan taqlid: “menerima perkataan (pendapat) orang, padahal engkau tidak mengetahui darimana sumber atau dasar perkataan (pendapat) itu”. Para ulama yang lain seperti al-Ghazali, asy-Syaukani, ash-Shan‘ani dan ulama yang lain juga membuat definisi taqlid, namun isi dan maksudnya sama dengan definisi yang dibuat oleh ulama Ushul, sekalipun kalimatnya berbeda. Demikian pula dengan definisi yang dibuat oleh Muhammad Rasyid Ridla dalam Tafsir al-Manar, yaitu: “mengikuti pendapat orang-orang yang dianggap terhormat atau orang yang dipercayai tentang suatu hukum agama Islam tanpa meneliti lebih dahulu benar salahnya, baik buruknya serta manfaat atau mudlarat dari hukum itu”.

SHALAT WITIR, LETAK HADITS SHALAT MALAM 4-4 RAKAAT, DAN HUTANG PUASA DIGANTI DENGAN FIDYAH

FATWA TENTANG
SHALAT WITIR, LETAK HADITS SHALAT MALAM 4-4 RAKAAT, DAN
HUTANG PUASA DIGANTI DENGAN FIDYAH


Pertanyaan:
1.      Benarkah dalil: لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ ? Hal ini terjadi karena perdebatan antara yang berpendapat setelah shalat lail 13 raka’at, nanti malam boleh shalat malam lagi asal tidak witir lagi. Yang lain makmum setelah 8 raka’at pulang meninggalkan imam, sebab nanti malam akan shalat lagi dan witir.
2.      Di mana letak dalam kitab, nomor 10 halaman 347 HPT tentang shalat malam 4, 4 raka’at? Di al-Bukhari dan Muslim, jilid berapa tahun berapa dan nomor berapa?
3.      Isteri saya, Ramadlan yang lalu mempunyai hutang puasa 5 hari. Sekarang sedang hamil 8 bulan. Apakah yang 5 hari belum dilaksanakan boleh dibayar dengan fidyah karena hamil?
Penanya:
Abu Nahar, Keprabon Tengah I/4a Solo
(disidangkan pada hari Jum’at, 10 Shaffar 1427 H / 10 Maret 2006 M)

Sabtu, 30 Juni 2012

Maklumat PPM 2012 Tentang Puasa Ramadhan


Maklumat 1433-2012
Minggu, 06 Mei 2012

Tafsir Ibnu Katsir Juz 3


Tafsir Ibnu Katsir Juz 3

Tafsir Ibnu Katsir Juz 4


Tafsir Ibnu Katsir Juz 4

Tafsir Ibnu Katsir Juz 5

Sabtu, 05 Mei 2012

Tafsir Ibnu Katsir


Tafsir Ibnu Katsir


Pedoman Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah


Jumat, 27 April 2012

La Tahzan (Jangan Bersedih)



Kamis, 19 April 2012

Yahudi Menggenggam Dunia



Rabu, 04 April 2012

RSM Gelar Workshop MGD dan BKM

News Release : 
Kursus Kesiapan Rumah Sakit dalam Menanggulangi Gawat Darurat dan Bencana Korban Massal

Tentu masih ingat dalam benak kita, berita di Radar Bojonegoro beberapa hari terakhir ini terkait dengan kecelakaan darat yang terjadi di Tuban dan Bojonegoro yang mengakibatkan korban masal ?

Hari jum’at jam 11.50, cuaca saat itu sangat terik dan lalu lintas padat, terjadi tabrakan dilintasan kereta api yang jaraknya sekitar 200 meter dari Rumah Sakit, antara bis yang syarat penumpang 40 orang dengan kereta api jurusan Jakarta-surabaya

Jumlah korban luka dan meninggal dari kedua alat transportasi tersebut (Bis dan Kereta Api). 30 orang meninggal 100 orang luka-luka, sebagian besar luka multiple trauma. Situasi sangat chaos. Apa yang harus dilakukan oleh RS dan bagaimana akan melakukannya ? Begitulah pertanyaan yang diajukan oleh
Kamis, 29 Maret 2012

Pelajar Muhammadiyah Demo Jujur


Pelajar Muhammadiyah Lamongan Kampanye Unas Jujur


Minggu, 25 Maret 2012 19:36:04 WIB
Radar Bojonegoro

Lamongan Ribuan Pelajar Muhammadiyah Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan turun jalan dalam rangka Gebyar Pelajar Kampanye Kejujuran UNAS (Ujian Nasional).  Para Pelajar tersebut  tergabung dalam Pimpinan Cabang lkatan Pelajar Muhammadiyah (PC IPM) Babat Daerah lamongan.

Mereka melakukan aksi turun jalan dimulai start dari SMP Muhammadiyah 1 Babat melewati jalan Propinsi Babat – Surabaya, kemudian Finish di SMK Muhammadiyah 5 babat. Aksi ini berjalan mulai pagi sekitar pukul 07.00,  disepanjang jalan mereka meneriakkan ajakan untuk berlaku jujur dalam Ujian Nasional mendatang, karena bagi mereka Kejujuran adalah hal utama dalam membangun Bangsa dan Negara.

Mewujudkan Gerakan Dakwah di Ranting

Mewujudkan Gerakan Dakwah di Ranting

Penulis : Agus Sukoco
 
Disebutkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, Ranting adalah kesatuan anggota di suatu tempat atau kawasan yang terdiri atas sekurang-kurangnya 15 orang yang berfungsi melakukan pembinaan dan pemberdayaan anggota. Pimpinan Ranting memimpin Muhammadiyah dalam rantingnya serta melaksanakan kebijakan Pimpinan di atasnya. Tugas utama Pimpinan Ranting adalah memimpin Anggota Muhammadiyah di rantingnya untuk mengemban misi Muhammadiyah dan mewujudkan visi atau tujuannya.
 
Misi Muhammadiyah sebagaimana ditulis dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam. Dalam Keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah, misi tersebut diaktualisasikan dengan cara: (1) menegakkan Tauhid yang murni berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah; (2) menyebarluaskan dan memajukan Ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahihah/maqbulah; (3) mewujudkan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Misi tersebut merupakan langkah-langkah untuk mewujudkan Visi Muhammadiyah “Terwujudnya Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”
 

Makna Bermuhammadiyah

 

Menurut K.H. Suprapto Ibnu Juraemi (Alm)


Dua pertanyaan Kyai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Urung Menjadi Partai Politik Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik, dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Yang menarik adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama berkumpul. Orang itu adalah Haji Agus Salim.
Haji Agus Salim punya gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kalau pada masa Orde Baru Muhammadiyah disebut orsospol, dan beberapa pimpinan Muhammadiyah menjadi anggota Dewan. Ternyata, menjelang akhir hayat Kiyai Haji Ahmad Dahlan, sudah muncul juga “ambisi” menjadikan Muhammadiyah sebagai parpol. Sidang dipimpin oleh Kiyai Ahmad Dahlan. Diketahui, Haji Agus Salim adalah seorang jurnalis, politisi dan diplomat yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berdebat. Dalam sidang Hoofdbestuur, argumentasi yang disampaikan Haji Agus Salim membuat seluruh yang hadir terpukau, terkesima dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kyai Dahlan, karena menjadi pimpinan sidang, tidak berpendapat. Setelah Kyai Dahlan melihat bahwa nampaknya yang hadir sepakat dengan gagasan Haji Agus Salim, Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kiyai Hadjid, apakah Kyai Dahlan memukul mejanya keras apa tidak.
Selasa, 13 Maret 2012

KHUSYu'

 
 
Khusyu’
Mohammad Damami


Salah satu tanda keberuntungan orang beriman adalah jika dalam shalatnya dapat dilaksanakan dengan khusyu’. Dalam  Al-Qur’an ditegaskan (Q.s. Al-Mu’minun [23]: 1-2): qad aflaha-‘l-mu’minuuna alladziina hum fii shalaatihim khaasyi’uuna = Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalat mereka. Lalu banyak orang  bertanya, apa dan bagaimana yang disebut khusyu’ dalam shalat? Jawabannya memang bisa beragam. Salah satunya seperti yang dituliskan di bawah ini.

Dari segi bahasa, kata “khusyu’” berarti “tunduk” atau “merendah diri”. Artinya, perlakuan tunduk dan merendah diri tersebut didasarkan pada kesadaran bahwa  dirinya memang dalam posisi lebih lemah dan lebih banyak kekurangan, sedangkan yang dihadapi adalah pihak yang kuat dan jauh lebih sempurna. Dalam Al-Qur’an kata “khusyu’” ini selalu dikaitkan dengan masalah ketuhanan. Karena itu arti dari “khusyu’” adalah tunduk dan merendah diri secara penuh kesadaran. Sebab yang dihadapi adalah Tuhan Yang Maha Kuat dan Maha Sempurna.

Bersyukur Adalah Tampilan Nyata Orang Beriman

Bersyukur Adalah Tampilan Nyata Orang Beriman
Mohammad Damami


Tidak jarang orang memahami istilah “syukur” itu sedemikian sederhana dan pragmatis. Seolah-olah kalau ada orang mau berterima kasih kepada Allali SwT dan mengucapkan lafal “al-hamdu li- ’llaahi rabbi-’l-’aalamiin” sudah dianggap cukup untuk disebut sebagai orang yang “bersyukur”. Apakah demikian itu pengertian “syukur” kalau dilihat dari perspektif orang beriman?

Dari perspektif orang beriman, bangunan atau struktur tampilan “syukur” itu memiliki 2 (dua) komponen inti, yaitu komponen “kesadaran memiliki Tuhan” dan komponen “kesadaran mengelola diri sendiri”. Setiap komponen inti tersebut memiliki subkomponen yang mau tidak mau harus ada dan harus dimunculkan. Bagaimana penjelasan rincinya?

Kerukunan Hidup Beragama Dalam Perspektif Al-Qur’an



Kerukunan Hidup Beragama Dalam Perspektif Al-Qur’an

PROF DR H MUHAMMAD CHIRZIN, MAg
GURU BESAR UIN SUNAN KALIJAGA DAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Bangsa Indonesia terdiri dari beberapa suku, agama, dan golongan. Sungguhpun berbedabeda, tetapi satu tujuan, yaitu meraih kebahagiaan
hidup di dalam bingkai persaudaraan sesama manusia, sebangsa dan se-Tanah Air, dan sesama pemeluk agama. Kata kunci persaudaraan dan kebahagiaan hidup adalah kerukunan sesama warga tanpa memandang perbedaan latar belakang suku, agama dan golongan, karena hal itu adalah Sunnantullah. Kerukunan adalah kesepakatan yang didasarkan pada kasih sayang. Kerukunan mencerminkan persatuan dan  persaudaraan. Allah SwT berfirman, "Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa supaya kamu saling mengenal (bukan supaya saling membenci). Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di dalam pandangan Allah ialah orang yang paling bertakwa. Allah Maha Tahu, Maha Mengenal". (Al-Hujurat [49]: 13)

Senin, 27 Februari 2012

Pesan, Nasehat dan Wasiat KH. Ahmad Dahlan

                        Pesan, Nasehat dan Wasiat KH. Ahmad Dahlan                            

 KH. Ahmad Dahlan adalah Pendiri Organisasi Muhammadiyah dan Hizbul Wathan. Selain tokoh masyarakat beliau adalah tokoh nasional. Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Kisah hidup dan perjuangan Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadyah diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Pencerah. Tidak hanya menceritakan tentang sejarah kisah Ahmad Dahlan, film ini juga bercerita tentang perjuangan dan semangat patriotisme anak muda dalam merepresentasikan pemikiran-pemikirannya yang dianggap bertentangan dengan pemahaman agama dan budaya pada masa itu, dengan latar belakang suasana Kebangkitan Nasional. Berikut adalah beberapa Pesan, Nasehat dan Wasiat KH. Ahmad Dahlan :

Jumat, 24 Februari 2012

The Power Of Ikhlas

The Power Of Ikhlas

Oleh:  Dr. H. Shobahussurur, M.A.

( Ketua  Masjid Agung Al-Azhar Jakarta &
Divisi Dakwah Khusus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah )

“Padahal, mereka tidaklah disuruh melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dalam menjalankan ajaran yang lurus, mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Demikian itulah agama yang lurus.”. Q.S. al-Bayyinah/98: 5.


“Berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.”. Q.S. Ghafir: 14.

Ka'bah Bukan Berhala

 

KA'BAH BUKAN BERHALA


Mengapa Umat Islam berkiblat pada Ka'bah?

Ada banyak pertanyaan ketika seorang muslim yang bertauhid kepada Tuhan dan tidak menyekutukannya dengan benda apapun ditentang oleh kaum lain.
Pertentangan ini disebabkan acuan muslim yang menolak menyembah berhala namun sholat justru menyembah sebuah rumah batu berbentuk kotak yang disebut Ka’bah.
Tentu bagi sebagian muslim yang belum memiliki iman kuat akan terpancing keragu- raguannya akan kebenaran Islam.
Di sini saya akan menjelaskan perbedaan penyembahan berhala oleh umat lain, baik dalam bentuk pemujaan terhadap patung maupun pemujaan terhadap benda-benda lain yang diyakini merupakan manifestasi Tuhan. Umat Islam diwajibkan bersholat 5 waktu sehari, sholat adalah amalan utama dalam Islam, tidaklah seorang muslim akan ditanya perkara lain di hari kiamat kecuali akan ditanya terlebih dahulu tentang sholatnya. Barangsiapa yang sholatnya baik maka baik pula amalan hidupnya. Tetapi jika sholatnya buruk maka buruklah semua amalannya, jadi percuma jika seorang muslim yang dermawan dan baik hati tapi lalai dalam bersholat.

Meneladani Kepemimpinan Tokoh-tokoh Muhammadiyah (Bag-1)

                                  

Meneladani Kepemimpinan Tokoh-tokoh Muhammadiyah
                                                         Oleh :K.H. S. Ibnu Juraimi (alm)


Makna Keteladanan 

Ayat 21 dari Surat Al-Ahzab yang sangat terkenal (“laqod kana lakum fi Rasu-lullahi uswatun hasanah, liman kana yarjullaha wal yaumal-akhira wadzaka-rallaha katsira”) ini sering dipotong oleh para pencera-mah/ muballigh, dalam menerangkannya dicu-kupkan hanya sampai pada “uswatun hasanah”, sehingga maknanya menjadi kurang berbobot, sebab dua kalimat yang terpadu dalam satu ayat ini adalah satu rangkaian yang mestinya diung-kap secara utuh. Memang maksudnya pence-ramah mengungkap sampai uswatun khasanah itu untuk menampilkan bahkan menonjolkan Nabi Muhammad Saw. sudah cukup baik. Namun, karena terpotong lalu menjadi agak pincang. Orang mungkin kagum dengan ketela-danan beliau, tetapi nampaknya belum ada upaya bagaimana kemudian bisa meneladani beliau. Ayat “liman kana yarjullah” dan seterus-nya itu memberi makna yang dalam bahwa keteladanan uswah khasanah Nabi itu “liman”. “Li” yang kita kenal sebagai harfuj-jar itu bermakna adamul khasr. Uswah khasanah teladan Nabi itu hanya untuk orang yang mengharap ridhanya Allah dan hari kemudian, ditandai dengan banyaknya ingat kepada Allah. Artinya, orang yang memang berniat untuk meneladani beliau adalah orang yang mendam-bakan ridhanya Allah. Nonsens orang menela-dani Nabi tidak mendapati yang namanya ridhanya Allah. Ungkapan mengharap ridhanya Allah ini penting sekali sebab terutama orang zaman sekarang dalam meneladani orang itu biasanya dalam hal-hal yang pragmatis. Disinilah kita bisa menangkap isyarat mengapa perlu diungkap secara utuh. Hanya orang yang mengharap ridha Allah yang siap meneladani uswah khasanah Rasulullah Saw.

Kamis, 23 Februari 2012

Gerakan Jamaah & Dakwah Jamaah Dalam Muhammadiyah

Gerakan Jamaah & Dakwah Jamaah Dalam Muhammadiyah


Oleh : Fathurrahman Kamal, Lc.,MA
(Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah 2010-2015)

IFTITAH : MUQADDIMAH ANGGARAN DASAR, JATI DIRI, MKCH & KEPRIBADIAN (SYAKHSHIYYAH) WARGA MUHAMMADIYAH[3] SEBAGAI MUNTHALAQ DAKWAH KITA

1. 1) Muqaddimah Anggaran Dasar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ.

رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمدصلى الله عليه وسلم نبياورسولا

AMMA BA’DU, bahwa sesungguhnya ke-Tuhanan itu adalah hak Allah semat-mata. Ber-Tuhan dan beribadah serta tunduk dan tha’at kepada Allah adalah satu-satunya ketentuan yang wajib atas tiap-tiap makhluk, terutama manusia.

Hidup bermasyarakat itu adalah sunnah (hukum qudrat iradat) Allah atas kehidupan manusia di dunia ini.

Masyarakat yang sejahtera, aman damai, makmur dan bahagia hanyalah dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan dan gotong royong, bertolong-tolongan dengan bersendikan hukum Allah yang sebenar-benarnya, lepas dari pengaruh syaitan dan hawa nafsu.

Agama Allah yang dibawa dan diajarkan oleh sekalian Nabi yang bijaksana dan berjiwa suci, adalah satu-satunya pokok hukum dalam masyarakat yang utama dan sebaik-baiknya.

Menjujung tinggi hukum Allah lebih daripada hukum manapun juga, adalah kewjiban mutlak bagi tiap-tiap orang yang mengaku ber-Tuhan kepada Allah.

Agama Islam adalah agama Allah yang dibawa oleh sekalian Nabi, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw, dan diajarkan kepada umatnya masing-masing untuk mendapatkan hidup bahagia Dunia dan Akhirat.

Syahdan, untuk menciptakan masyarakatyang bahagia dan sentausa sebagai yang tersebut di atas itu, tiap-tiap orang terutama umat Islam, umat yang percaya akan Allah dan Hari Kemudian, wajiblah mengikuti jejak sekalian Nabi yang suci; beribadah kepada Allah dan berusaha segiat-giatnya mengumpulkan segala kekuatan dan menggunakannya untuk menjelmakan masyarakat itu di dunia ini, dengan niat yang murni tulus dan ikhlas karena Allah semata-mata dan hanya mengharapkan karunia Allah dan ridha-nya belaka, serta mempunyai rasa tanggung jawab di hadirat Allah atas segala perbuatannya, lagi pula harus sabar dan tawakal bertabah hati menghadapi segala kesukaran atau kesulitan yang menimpa dirinya, atau rintangan yang menghalangi pekerjaannya, dengan penuh pengharapan perlindungan dan pertolongan Allah Yang Maha Kuasa.

Untuk melaksanakan terwujudnya masyarakat yang demikian itu, maka dengan berkat dan rahmat Allah didorong oleh firman Allah dalam Al-Qur’an:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Adakanlah dari kamu sekalian, golongan yang mengajak kepada ke-Islaman, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah daripada keburukan. Mereka itulah golongan yang beruntung berbahagia”.
(QS Ali-Imran:104)

Pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah atau 18 Nopember 1912 Miladiyah, oleh almarhum KHA. Dahlan didirikan suatu persyarikatan sebagai “gerakan Islam” dengan nama “MUHAMMADIYAH” yang disusun dengan Majelis-Majelis (Bahagian-bahagian)-nya, mengikuti peredaran zaman serta berdasarkan “syura” yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau Muktamar.

Kesemuanya itu perlu untuk menunaikan kewajiban mengamalkan perintah-perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasul-nya, Nabi Muhammad saw., guna mendapat karunia dan ridha-nya di dunia dan akhirat, dan untuk mencapai masyarakat yang sentausa dan bahagia, disertai nikmat dan rahmat Allah yang melimpah-limpah, sehingga merupakan:

بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“Suatu negara yang indah, bersih suci dan makmur di bawah perlindungan Tuhan Yang Maha Pengampun”.

Maka dengan Muhammadiyah ini, mudah-mudahan umat Islam dapatlah diantarkan ke pintu gerbang syurga “Jannatun Na’im” dengan keridhaan Allah Yang Rahman dan Rahim.

2) JATI DIRI MUHAMMADIYAH

Muhammadiyah adalah suatu Persyarikatan yang merupakan “Gerakan Islam”. Maksud gerakan ialah Dakwah Islam dan amar ma’ruf dan nahi munkar yang ditujukan kepada dua bidang: perseorangan dan masyarakat

Dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar pada bidang pertama terbagi menjadi dua golongan :

a. Kepada yang telah Islam bersifat pembaruan (tajdid), yaitu mengembalikan kepada ajaran-ajaran Islam yang asli murni;

b. Kepada yang belum Islam, bersifat seruan dan ajakan untuk memeluk agama Islam.

Adapun dakwah Islam dan amar ma’ruf nahi munkar bidang kedua ialah kepada masyarakat, bersifat perbaikan, bimbingan dan peringatan.

Kesemuanya itu dilaksanakan dengan bermusyawarah atas dasar taqwa dan mengharap keridhaan Allah semata-mata.

Dengan melaksanakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar dengan caranya masing-masing yang sesuai. Muhammadiyah menggerakkan masyarakat menuju tujuan ialah mewujudkan masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhai Allah subhanahu wata’ala.

3. Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH)[4]

1) Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridhoi Allah s.w.t. untuk melaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khaifah Allah di muka bumi.

2) Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada RasulNya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Nabi penutup Muhammad s.a.w. sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materiil dan spiritual, duniawi dan ukhrawi.

3) Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan :

* Al-Qur’an : Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.
* Sunnah Rasul : Penjelasan dan pelaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur’an yang diberikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. ; dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.

4) Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang :

* Aqidah

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya akidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid’ah dan khurafat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.

* Akhlak

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlaq mulia dengan berpedoman ajaran-ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia.

* Ibadah

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.

* Muamalah Duniawiyah

Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu’amalat dunyawiyah (pengelolaan dunia dan pembinaan masyarakat) berdasarkan ajaran Agama serta menjadikan semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.

5) Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan negara Republik Indonesia yang berdasar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil dan makmur dan diridhoi Allah SWT (Surah Saba’ ayat 15) :

4). Kepribadian (Syakhshiyyah) Warga Muhammadiyah[5]

1) Memahami hakekat Islam secara menyeluruh mencakup aspek akidah, ibadah, akhlaq dan mu’amalat dunyawiyah; bersumberkan Al-Qur’an dan Sunnah Maqbulah.

2) Melandasi segala sesuatu dengan niat ikhlas mencari ridla Allah SWT semata-mata.

3) Mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupannya, dan berusaha untuk menegakkan Islam dalam kehidupan pribadi, kehidupan keluarga dan kehidupan bermasyarakat sehingga terwujud masyarakat utama yang diridlai oleh Allah SWT.

4) Memiliki semangat jihad untuk memperjuangklan Islam.

5) Memiliki kemauan dan kesediaan untuk berkorban demi Islam baik korban waktu, harta, tenaga bahkan nyawa sekalipun.

6) Mempunyai keteguhan hati dalam mengamalkan, menegakkan dan memperjuangkan Islam dengan arti kata tidak mundur karena ancaman dan tidak terbujuk dengan rayuan dan selalu istiqamah dalam kebenaran.

7) Mematuhi pimpinan dalam hal-hal yang disukai dan tidak disukai selama berada dalam garis kebenaran. Apabila terjadi perbedaan pendapat antara dia dan pimpinandalam hal yang sifatnya mubah atau ijtihadi dia akan mendahulukan pendapat pimpinan.

8) Mengamalkan ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan bermasyarakat.

9) Aktif dalam dakwah Islam (Muhammadiyah) secara murni dan penuh.

10) Bisa dipercaya dan mempercayai orang lain dalam organisasi.

KESADARAN BERJAMAAH : ANTARA TUNTUTAN SYAR’IY DAN FORMALITAS ORGANISASI

Dalam lembar tanfidz keputusan muktamar Muhammadiyah ke-39 terbitan PP Muhammadiyah tertanggal 29 Muharam 1395 / 10 Februari 1975 yang ditandatangani oleh pejabat PP Muhammadiyah : H.M. Djindar Tamimy dan H. Djarnawi Hadikusuma pada halaman 29-33 lampiran I tentang realisasi jama’ah dan dan dakwah jama’ah dalam konsep Gerakan Jama’ah dan Dakwah Jama’ah, dinyatakan bahwa gerakan yang dimaksud dalam rangka Gerakan Jama’ah dan Dakwah Jama’ah ialah suatu usaha Persyarikatan Muhammadiyah melalui anggotanya yang tersebar di seluruh tanah air untuk secara serempak teratur dan berencana meningkatkan keaktifannya dalam membina lingkungannya ke arah kehidupan yang sejahtera lahir dan batin.

Namun demikian, gerakan jama’ah dan dakwah jama’ah yang diidealkan sampai saat ini tampaknya belum menjadi kenyataan yang menggembirakan. Terbaca pada “Pengantar” buku Gerakan Jama’ah dan Dakwah Jama’ah yang diterbitkan oleh MTDK PPM (2006) beberapa faktor sebagai berikut; (1) Informasi / penjelasan tak tersebar secara merata; (2) Pergeseran nilai kegotong-royongan ke individualistis; (3) Masih adanya pengurus Persyarikatan yang tidak mau melaksanakan gerakan dakwah jama’ah; (4) Masih adanya sikap mental acuh tak acuh warga Muhammadiyah akan pelakanaan cita-cita luhur Muhammadiyah; (5) Belum semua warga Muhammadiyah siap melakukan perubahan; (6)Belum semua warga Muhammadiyah siap ittiba’ Rasul dalam hidup berjama’ah/ bermasyarakat.

Dalam hemat pembacaan dan perenungan penulis, tentunya ini subyektif namun dapat didiskusikan, sebagian warga kita berjamaah dan bermuhammadiyah baru pada level formalitas organisasi/persyarikatan semata, dalam artian hanya sebagai rutinitas yang pada titik tertentu justeru membosankan, dan lekas kehilangan stamina. Dalam ungkapan yang lain, kesadaran kita baru pada wilayah ’aqliyah-jasadiyah dan belum menembus relung jiwa yang terdalam, ruhiyah-qalbiyah kita. Dapat pula dikatakan, kita belum menyadari dengan baik dan kemudian mengamalkan bahwa, berjamaah atau bermuhammadiyah sejatinya adalah tuntutan yang bersifat syar’iy, berdasarkan nash-nash Al-Qur’an, Sunnah serta tauladan yang aktual pada masa dakwah Rasulullah SAW dan para Sahabat beliau, radlyallahu ’anhum.

Beberapa ayat Al-Qur’an berikut ini dapat kita tadabburi berasama:

1. Surah Ali Imran ayat 103

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ [6]

1. Surah Ali Imran ayat 105

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ[7]

1. Surah Al-Rum ayat 31-32

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ[8]

1. Surah Al-Tawbah ayat 107-108

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ. لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا[9]

1. Surah An-Nisa’ ayat 59

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا[10]

Adapun hadis-hadis Rasulullah SAW adalah :

1. HR Bukhari dan Muslim

لا يحل دم امرئ مسلم يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله إلا بإحدى ثلاث النفس بالنفس والثيب الزاني والمفارق لدينه التارك للجماعة[11]

1. HR Bukhari & Muslim

عن حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

1. HR Bukhari

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلَاثٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ …وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لَا يُبَايِعُهُ إِلَّا لِدُنْيَا فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا وَفَى وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا لَمْ يَفِ

1. HR Muslim

عن عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أن رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنِ اسْتَطَاعَ

Beberapa ayat Al-Qur’an dan hadis tersebut, dapat disimpulkan bahwa permasalahan berjamaah merupakan tuntutan dan kewajiban secara syar’iy yang mesti disadari dan diamalkan oleh setiap muslim. Berjama’ah bukanlah hanya tuntutan formalitas organisasi semata.

Setelah mencermati hadis-hadis Rasulullah SAW tentang jamaah, Al-Imam Asy-Syathiby menyimpulkan sebagai berikut; jamaah ialah umat Islam yang sepakat (ijma’) atas suatu urusan; mayoritas umat Islam; jama’ah para ulama dan ahli ijtihad; umat Islam yang sepakat atas satu pemimpin/amir; jama’ah secara spesifik ialah golongan para sahabat radliallahu ‘anhum.

Di antara pendapat-pendapat tersebut, Imam Asy-Syathiby cenderung untuk menyatakan bahwa jama’ah ialah jama’ah umat Islam jika mereka berkumpul dibawah kepemimpinan seorang amir/pemimpin. Demikian pula dipertegas oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab beliau “Fathul Bary”.[12]

DR Abdul Hamid Hindawy dalam kitabnya “Kayfa Al-Amru Idza Lam Tahun Jama’ah; Dirasat Hawla al-Jama’ah wa al-Jama’at” mengidentifikasi makna jama’ah menjadi dua; dimensi teoritis yakni komitmen dan berpegang teguh pada apa yang digariskan oleh Rasulullah SAW dan juga diikuti oleh para sahabat; dimensi praksis/politis yakni berkumpulnya seluruh umat Islam dibawah kepemimpinan seorang pemimpin/amir.[13]

Dengan penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa, saat ini tidak ditemukan Jama’ah Islam dalam dimensinya yang praksis/politis, di mana seluruh umat Islam di dunia bernaung di bawah kepepmimpinan seorang pemimpin/amir/khalifah. Fakta ini pula yang mengantarkan kita kepada kesimpulan lain, di mana tidak seorangpun atau jama’ah pun yang dapat mengklaim diri sebagai perwujudan otentik dari Jama’ah Islam universal yang wajib diikuti (diberikan sumpah setia/ bai’at) sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah SAW dalam hadis-hadis tentang jamaah. Yang ada dan dapat kita akui bersama untuk saat ini ialah adanya “jama’atun minal muslimin”, “satu jamaah dari keseluruhan umat Islam.”

Lalu bagaimana kita menjalankan ajaran berjamaah yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabda-sabdanya? Menjawab ‘kegelisahan’ ini, Dr. Sholah Ash-Shawi[14] menjelaskan 2 cara yang dapat ditempuh oleh setiap muslim :

Pertama; Komitmen (iltizam) dengan salah satu jama’ah dari berbagai jama’ah yang ada, dengan sebuah pandangan bahwa ini adalah sebuah usaha untuk menuju adanya “Jama’atul Muslimin” sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW, dengan melihat dan mempertimbangkan mana diantara jama’ah-jama’ah tersebut yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah, lebih komprehensif, matang dalam mempertimbangkan antara mashalih dan mafasid, lebih memiliki kemampuan, potensi dan kekuatan untuk melaksanakan amal Islam yang sempurna.

Kedua; Komitmen (iltizam) dengan Jama’atul Muslimin, Ahlul Halli wal ‘Aqdi. Mereka memiliki otoritas untuk mengambil keputusan dalam segala kepentingan dan kemaslahatan umat Islam. Hal sedemikian akan terwujud jika ada seorang pemimpin yang dapat diikuti secara bulat oleh keseluruhan umat Islam. Atau dapat pula, dalam proses menuju terwujudnya Jama’atul Muslimin, diadakan kepemimpinan kolektif yang dapat melakukan komunikasi aktif dengan seluruh elemen dan jama’ah-jama’ah yang ada, tanpa harus memberlakukan keharusan untuk menjadi anggota di salah satu dari jama’ah-jama’ah tersebut.

Berdasarkan pada peta permasalahan tersebut di atas, dalam konteks berjama’ah di Persyarikatan kita ini atau berMuhammadiyah, tampaknya lebih dekat dengan solusi pertama yang ditawarkan oleh Dr Sholah Ash-Shawi. Oleh karena itu, adalah sebuah kewajiban syar’iy bagi setiap warga Persyarikatan untuk muhasabah atas dirinya sendiri mengapa Muhammadiyah yang menjadi pilihannya. Jika memang pilihan kita untuk bergabung dan menyatakan komitmen bulat kepada Persyarikatan Muhammadiyah ini, maka apa yang penulis sebut sebagai “munthalaq dakwah Muhammadiyah” pada iftitah naskah ini, perlu untuk dikaji secara mendalam, dipahami, diamalkan, didakwahkan serta bersabar dalam menerima segala cobaan yang tentunya menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dari dakwah itu sendiri.

Tadabbur Sirah Nabawiyah : Gerakan Dakwah & Gerakan Jama’ah Rasulullah SAW

1) Untuk membangun sebuah jamaah, Rasulullah SAW mensosialisasikan prinsip-prinsip Islam dan pokok ajarannya. Syi’arnya ialah :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ[15]

Dalam hal ini Rasulullah SAW menjalankan beberapa hal berikut;

1. Mengintensifkan dakwah perorangan. Dakwah fardiyah ini dilakukan oleh Rasulullah SAW pada fase dakwah sirriyah. Metode ini sangat relevan untuk dilakukan pada awal pembentukan jama’ah, ataupun di saat adanya tindakan refresif dari pihak penguasa.
2. Dakwah jama’ah, mengintensifkan relasi kepada public (jumhur). Hal ini dilakukan oleh Rasulullah SAW pada masa dakwah jahriyah.

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ [16]

2) Menata manajemen dakwah.

Menentukan skala prioritas dalam berdakwah. Rasulullah SAW menegaskan eksistensinya sebagai pembawa risalah tauhid An-Nahl ayat 36 :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

3) Setelah jamaah terbentuk, Rasulullah SAW menyiapkan jama’ah tersebut untuk menyebarkan ajaran yang telah diterimanya.

وَإِنْ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْكُمْ ءَامَنُوا بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَائِفَةٌ لَمْ يُؤْمِنُوا فَاصْبِرُوا حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ[17]

1. Pada fase sirriyah : sahabat yang telah menerima dakwah berkisar antara 3-5 orang. Mereka kumpul setiap hari, tempat dan waktu yang bervariasi.
2. Pada fase jahriyah : Mengadakan pengajian umum, halaqah kabirah. Juga mengadakan rihlah dakwah jama’iyyah. Ada pula langkah-langkah untuk mengkondisikan dakwah dengan ceramah/khutbah, maw’idzah.

4) Langkah berikutnya, mengirim sahabat untuk berdakwah ke luar Makkah. Mush’ab ibn ‘Umair diutus ke Madinah dalam rangka pengkondisian pra-hijrah.

Demikianlah, secara ringkas, gerakan jamaah dan dakwah jamaah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam sirahNya.

Gerakan Jama’ah dan Dakwah Jama’ah Muhammadiyah

1) Gerakan yang dimaksud dalam rangka gerakan jama’ah dan dakwah jama’ah di sini adalah suatu usaha Persyarikatan Muhammadiyah, melalui anggotanya yang tersebar di seluruh tanah air, untuk secara serempak teratur dan terencana meningkatkan keaktifannya dalam membina lingkungannya ke arah kehidupan yang sejahtera lahir dan batin.

2) Pengertian tentang jama’ah

1. Jama’ah adalah suatu bentuk kehidupan bersama sekelompok orang yang tujuannya membina hidup berjama’ah.

Pengertian sekelompok orang yang dimaksud adalah sekelompok keluarga yang tempat tinggalnya saling berdekatan, tidak membedakan golongan, baik agama, status sosial maupun mata pencaharian.

1. Kelompok itu–oleh sekelompok kecil anggota Muhammadiyah yang ada di dalamnya–diusahakan dapat terwujud suatu kehidupan yang sejahtera, lahir dan batin, bagi segenap anggota kelompok, sehingga merupakan satu kesatuan kehidupan bersama dan serasi, yang selanjutnya dapat menyumbangkan kemampuannya untuk ikut serta membangun bangsa dan negaranya.
2. Sekelompok anggota Muhammadiyah yang mengambil inisiatif itu, disebut inti jama’ah, yang membentuk dirinya sebagai potensi penggerak kelompok (group dinamics).

Alasan untuk menempatkan diri sebagai inti jama’ah bagi anggota Muhammadiyah ini, tidak lain karena didorong oleh rasa tanggung jawabnya sebagai muslim yang melaksanakan ajaran agamanya, sebagai ibadahnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

1. Oleh karena itu, niat untuk membentuk jama’ah adalah semata-mata untuk mendapat ridha Allah subhanahu wa ta’ala, tidak dikerjakan untuk menyusun kekuatan politik atau golongan, tidak pula untuk kepentingan pribadinya. Kesejahteraan hidup adalah milik dan kepentingan bersama bagi setiap orang, setiap keluarga, setiap kelompok.
2. Jama’ah sebagai bentuk kehidupan bersama tidak selalu harus dimulai dengan membentuk organisasi jama’ah yang nyata (kongkrit). Titik berat gerakan ini adalah menyebarkan dan mengembangkan ide hidup berjama’ah. Bentuk organisasi jama’ah tidak boleh dipaksakan. Akan tetapi pengelompokan anggota Muhammadiyah menjadi inti jama’ah menjadi sarana yang paling dekat untuk dicapai oleh Persyarikatan.

Dengan melalui pertemuan dan lain sebagainya inti-inti jama’ah ini melangkahkan kakinya untuk memprakarsai hidup berjama’ah di lingkungan tempat tinggalnya dan kalau situasi dan kondisi setempat mengizinkan, melangkah lebih jauh untuk mewujudkan jama’ah sebagai lembaga sosial yang terbukti memang dikehendaki dan dibutuhkan masyarakat (sosial need).

3) Pengertian tentang Hidup Jama’ah

1. Bahwa hidup berjama’ah seperti yang dijelaskan di atas (2) bisa tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, apalagi bisa teratur dan berencana mudah kita duga.

Manusia sebagai makhluk sosial, yang secara fitrahnya harus hidup berkelompok karena saling membutuhkan. Tetapi manusiapun disifati sebagai makhluk individual, yang terjadi dari jiwa raga yang tak terpisahkan, dengan cipta, rasa dan karsanya itu memiliki kemampuan untuk membebaskan dirinya dari ikatan lingkungannya, walapun hanya di dalam hatinya. Oleh karena itu sifat egoistis–mementingkan diri sendiri, sering lebih menonjol dari sifat sosialnya. Dari pokok pangkal pikiran ini, kita mudah menduga bahwa hasrat untuk hidup berjama’ah tidak bisa tumbuh dan berkembang sendiri. Harus ada sekelompok kecil di tengah-tengah kelompok yang lebih besar yang membentuk dirinya menjadi inti kelompok –dus inti jama’ah– mengajak untuk hidup sejahtera, membina kebaikan dan menjauhkan kemungkaran.

1. Hidup berjama’ah harus dida’wahkan, tetapi tidak cukup hanya dengan khutbah-khutbah di masjid atau ceramah-ceramah di dalam pengajian-pengajian; pendeknya tidak cukup diomongkan.

Hidup berjama’ah harus diprakarsai muballigh (inti jama’ah) dan umat yang dida’wahi (calon jama’ah)nya harus merupakan satu pernyataan hidup bersama. Apa yang dida’wahkan si muballigh – baik materi maupun sasarannya, baik langsung maupun tidak langsung akan menyangkut dan mengenai pribadi si muballigh.

Oleh karena itu sistem da’wah dalam rangka menimbulkan hidup berjama’ah ini disebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

Tujuannya

a) Menumbuhkan dan membina hidup berjamaah yaitu hidup bersama yang serasi, rukun dan dinamis;

b) Menumbuhkan dan membina hidup sejahtera, yakni hidup yang terpenuhi kebutuhan lahir dan batin bagi segenap warga jama’ah;

c) Kesemuanya itu untuk mengantarkan warga jama’ah dalam pengabdiannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kepada bangsa dan negara serta kemaslahatan manusia pada umumnya.

1) Materinya

a) Bidang pendidikan: menumbuhkan kesadaran dan memberikan pengertian tentang mutlak perlunya pendidikan bagi anak-anak dan generasi muda, khususnya pendidikan agamanya, untuk menjadi pegangan hidup dan kehidupannya di masa depan;

b) Bidang sosial: membina kehidupan yang serasi antara keluarga yang satu dengan yang lainnya, saling tolong menolong dan bantu membantu mengatasi kesulitan yang sedang dialami oleh anggota jama’ahnya. Menghilangkan sifat egois dan menutup diri;

c) Bidang ekonomi: berusaha mencegah kesulitan-kesulitan ekonomi/ penghidupan yang dialami oleh anggota jama’ahnya, antara lain dengan membantu permodalan, mencarikan pekerjaan, memberikan latihan ketrampilan/ keahlian dan sebagainya;

d) Bidang kebudayaan: membina kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Islam sebagai sarana / alat da’wah dan mengikis/ menghindarkan pengaruh kebudayaan yang merusak, dari manapun datangnya;

e) Bidang hukum: membina kesadaran dan memberikan pengertian tentang tertib hukum untuk kebaikan bersama dalam kemasyarakatan. Melaksanakan dan mempraktekkan ajaran-ajaran agama (Islam) yang berhubungan dengan mu’amalah duniawiyah;

f) Bidang hubungan luar negeri (solidaritas): menumbuhkan rasa setia kawan dan simpati terhadap sesama umat Islam khususnya dan umat manusia umumnya yang sedang mengalami musibah, penderitaan, penindasan dan sebagainya kemudian menyata-laksanakannya dengan mengumpulkan bantuan dan sebagainya.

2) Metodenya

a) Dakwah jama’ah dilaksanakan oleh sekelompok kecil warga jama’ah (inti jama’ah) yang ditujukan kepada kelompok (jama’ahnya);

b) Inti jama’ah bertindak sebagai penggerak kelompok yang merencanakan, melaksanakan dan menilai langkah-langkah dan materi da’wahnya;

c) Dakwah jama’ah menggunakan teknik-teknik pembinaan masyarakat (community development).

3) Sifatnya

a) Da’wah jama’ah dilaksanakan atas nama pribadi masing-masing muballigh;

b) Da’wah jama’ah bersifat informil, artinya tidak mengikatkan dirinya kepada instansi / lembaga yang formil;

c) Instansi/lembaga-lembaga masyarakat yang ada menjadi tempat menyalurkan kegiatan warga berjama’ah.

4) Pengertian tentang inti jama’ah

1. Inti jama’ah terjadi dari anggota Muhammadiyah. Satu inti jama’ah terdiri dari sekitar 3 (tiga) sampai 7 (tujuh orang, dari pria dan wanita;
2. Ruang gerak satu inti jama’ah sekurang-kurangnya meliputi satu rukun tetangga (RT), seluas-luasnya meliputi satu rukun kampung / warga / dukuh;
3. Tugas inti jama’ah adalah melaksanakan dan merencakan da’wah jama’ah serta dinilai hasil-hasilnya untuk langkah-langkah perubahan;
4. Inti-inti jama’ah di satu keluarga saling mengkoordinir dan menyeleraskan kegiatan menjadi satu unit gerakan jama’ah.

Unit-unit ini yang menjadi salauran komunikasi dengan induk organisasi Muhammadiyah;

1. Keanggotaan inti jama’ah serta pembagian tugas perhatiannya diatur/ dimusyawarahkan bersama oleh anggota Muhammadiyah dalam satu jama’ah.

Apabila di dalam satu jama’ah terdapat kelebihan anggota Muhammadiyah, tugas inti jama’ah dapat digilirkan secara periodik. Anggota yang kebetulan tidak menjadi inti jama’ah berfungsi sebagai pendukung dan pelopor kegiatan jama’ahnya. Kelebihan anggota tersebut dapat ditugaskan untuk membina tempat lain yang tidak terdapat anggota Muhammadiyah di dalamnya;

1. Apabila bentuk jama’ah sudah gatra (maujud), inti jama’ah mempersiapkan terbentuknya organisasi jama’ah dengan mempersiapkan pamong jam’ahnya;
2. Di dalam hal organisasi jama’ah belum terwujud, inti jama’ah berfungsi sebagai pamong jama’ah sementara. Kalau organisasi jama’ah dan pamong jama’ah sudah terwujud, inti jama’ah dapat mengintegrasikan diri ke dalamnya atau berdiri di luar sebagai pembantu, aktif menjadi sumber inspirasi dan kreasi kegiatan jama’ahnya.

5) Pengertian tentang organisasi Jama’ah

1. Organisasi jama’ah adalah organisasi yang informal, dalam arti tidak terikat dan bertanggungjawab kepada organisasi lain.

Organisasi ini lahir sebagai proses yang wajar dari kebutuhan kelompok masyarakat di suatu tempat, sebagai akibat dari suksesnya dakwah jama’ah yang dilaksanakan oleh inti jama’ah. Organisasi jama’ah tidak dapat dipaksakan adanya. (Nama jama’ah itu sendiri tidak mutlak harus dipergunakan sekiranya justru akan menghambat pengertian hidup berjama’ah).

1. Di dalam satu lingkungan tempat di mana semua atau sebagian besar penghuninya warga Muhammadiyah, masalah terbentuknya organisasi jama’ah tidak perlu dipersoalkan. Karena ide hidup berjama’ah memang sudah menjadi sebagian dari kepribadiannya; maka timbulnya organisasi jama’ah berfungsi sebagai intensifikasi semangat dan kegiatan hidup berjama’ah;
2. Organisasi jama’ah dipimpin oleh pamong jama’ah yang terjadi dari warga jama’ah dan terdiri dari Bapak dan Ibu jama’ah dengan beberapa pembantu. Ibu dan Bapak jama’ah dipilih dari dan oleh warga jama’ah sebagai sesepuh/tertua lingkungan itu. Sedang pembantu-pembantunya terdiri dari tenaga-tenaga muda yang lincah dan penuh daya kreasi dan bertanggungjawab kepada Bapak dan Ibu jama’ah;
3. Pamong jama’ah bisa terjadi, sebagian dari inti jama’ah atau seluruhnya, atau dapat pula inti jama’ah ada di luar pamong jama’ah (lihat 4-g.);
4. Tugas pamong jama’ah adalah memimpin dan mengantarkan jama’ahnya menuju ke kehidupan berjama’ah yang sejahtera. Menampung dan menyalurkan ide-ide kegiatan dan kebutuhan-kebutuhan hidup warganya yang sesuai dengan sasaran hidup berjama’ah yang sejahtera;
5. Saluran ide-ide, kegiatan dan kebutuhan warga jamaah dapat ditumbuhkan dalam jama’ah atau memanfaatkan instansi / lembaga yang telah ada di luar jama’ah;
6. Sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa secara resmi jama’ah tidak ada hubungannya dengan organisasi Muhammadiyah; yang ada hubungan secara organisatoris adalah antara anggota Muhammadiyah (sebagai warga jama’ah yang menjadi inti jama’ah) dengan Muhammadiyah (Ranting).

6) Lokasi gerak jama’ah dan dakwah Jama’ah

1. Gerakan jama’ah dan dakwah jama’ah bertitik tolak pada pembinaan mental pribadi warga jama’ah dalam keluarganya dan dalam lingkungan tetangganya;

Pembinaan ini dapat melalui sarana-sarana intern jama’ah dan dapat memanfaatkan sarana/fasilitas di luar jama’ah. Secara rutin pamong jama’ah memperhatikan situasi dan kondisi warga jama’ahnya, mengamati rumah tangganya dan suasana hidup bertetangga. Masalah-masalah yang tampak segera ditangani, yaitu dicari pemecahannya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Ide-ide yang positif dan kreatif diusahakan melalui musyawarah, sehingga menjadi milik bersama dan tanggung jawab bersama jama’ahnya.

1. Selanjutnya gerakan jama’ah dan dakwah jama’ah meluaskan pandangannya seluas batas-batas kelurahan tempat jama’ah-jama’ah. Ada inisiatif inti-inti jama’ah yang tergantung dalam unit gerakan jama’ah; Jama’ah-jama’ah diajak berpartisipasi dalam pembangunan kelurahannya (pembangunan desa/ kota).

7) Kompetensi Da’i Pendamping

1. Kompetensi Subtantif

* Ikhlas
* Amanah
* Shidq (Kejujuran ) : Perkataan, niat dan kehendak, ’azm/tekad, menepati janji dan dalam bekerja.
* Akhlaq karimah: rahmah, rifq (lemah lembut) dan hilm (santun), sabar, hirsh (mencintai dan perhatian kepada mad’uw/audiens)
* Pemahaman Islam yang komprehensif
* Pemahaman akan hakekat dakwah/Fikih dakwah
* Mengenal lingkungan

1. Kompetensi Metodologis

Kompetensi metodologis adalah sejumlah kemampuan yang dituntut oleh seorang da’i pendamping jama’ah yang berkaitan dengan masalah perencanaan dan metode dakwah. Dengan ungkapan lain, kompetensi metodologis ialah kemampuan profesional yang ada pada diri da’i pendamping jama’ah sehingga ia : (1) Mampu membuat perencanaan dakwah (persiapan, kegiatan dakwah) yang akan dilakukan dengan baik; dan; (2) Sekaligus mampu melaksanakan perencanaannya.

* Da’i pendamping jama’ah harus mampu mengidentifikasi permasalahan dakwah yang dihadapi, yaitu mampu mendiagnosis dan mengemukakan kondisi “keberagamaan” obyek dakwah yang dihadapi, baik pada tingkat individu maupun tingkat masyarakat.
* Da’i pendamping jama’ah harus mampu mencari dan mendapatkan informasi mengenai ciri-ciri obyektif dan subyektif obyek dakwah serta kondisi lingkungannya.
* Berdasarkan informasi yang diperoleh dengan kemampuan pertama dan kedua di atas, seorang da’i pendamping jama’ah akan mampu menyusun langkah perencanaan bagi kegiatan dakwah yang dilakukan.
* Kemampuan untuk merealisasikan perencanaan tersebut dalam pelaksanaan kegiatan dakwah. Walaupun faktor-faktor bakat memegang peranan cukup menentukan, tetapi faktor latihan (dan pengalaman) akan sangat menunjang kompetensi ini.

Ikhtitam

Demikianlah konsep Gerakan Jama’ah dan Dakwah Jama’ah yang telah lama kita cita-citakan. Hemat kami, kuncinya ialah kita bekerja sungguh-sungguh dan tidak terlalu banyak berwacana ataupun silang pendapat. Apa yang bisa kita lakukan, kita lakukan sekarang juga. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, konsep ini sejatinya bukan hal yang baru sama sekali. Ia telah lahir dari aktualisasi nyata dakwah beliau di awal menggerakkan jama’ah dan dakwah jama’ah seperti yang telah kami utarakan.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita keikhlasan dan kemauan untuk menunaikan amanah dakwah yang mulia ini dalam rumah kita, Muhammadiyah tercinta.Amin ya Mujibassa’ilin.
[1] Disampaikan pada pengajian PDM Sragen, Sabtu 14 April 2007

[2] Anggota Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Periode : 2005-2010 / Mudir Lembaga Bahasa Arab “Ma’had Ali Bin Abi Thalib” Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

[3] Lihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, Tahun 2005, hal. 5-8. Juga, Haedar Nashir dkk., Materi Induk Perkaderan Muhammadiyah (Yogyakarta, Badan Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1994), Cet. Ke-1, hal. 126-129

[4] Keputusan Tanwir 1969 di Ponorogo

[5] Haedar Nashir dkk., Materi Induk…hal. 85-86

[6] Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

[7] Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,

[8] Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

[9] Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya

[10] Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

[11] ( لا يحل دم امرئ ) لا يباح قتله(النفس بالنفس ) تزهــــــــــــق نفس القاتل عمدا بغير حــــــق بمقابلة لنفس التي أزهقها(الثيب الزاني ) الثيب مـــــــن سبق له زواج ذكرا أم أنثى فيباح دمه إذا زنى (المفارق ) التارك المبتعد وهو المرتد . وفي رواية ( والمارق من الدين ) وهو الخارج منه خروجا سريعا(التارك للجماعة ) المفارق لجماعة المسلمين (Lihat, CD Al-Maktabah Asy-Syamilah)

[12] Husain Ibn Muhsin Ibn Ali Jabir, Al-Thariq Ila Jama’atil Muslimin (Madinah : Darul Wafa’, 1989), Cet. IV, hal. 25-26

[13] Abdul Hamid Hindawy, Kayfa Al-Amru Idza Lam Tahun Jama’ah; Dirasat Hawla al-Jama’ah wa al-Jama’at (Mesir: Maktabah Tabi’in, 1416), Cet. II, hal.95

[14] Sholah Ash-Shawi, Jama’atul Muslimin; Mafhumuha wa Kaifiyatu Luzumiha fi Waqi’ina al-Mu’ashir (Qahirah : Dar Shafwah, 1413), Cet. 1, hal. 72-75

[15] Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (An-Nahl : 125)

[16] Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (Hijr : 94)

[17] Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.

Khutbah Jum'at

 

Khutbah Jum'at : AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR


Assalamu'alaikum wr wb.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ؛
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.


Sidang Jum’ah yang dimuliakan Allah …

Saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan jama’ah sekalian untuk selalu bertaqwa kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dengan selalu melaksanakan perintah serta menjauhi larangNya.

Sidang Jum’ah yang dimuliakan Allah …
Dalam khutbah ini saya akan menyampaikan masalah yang berkenaan dengan amar ma’ruf nahi mungkar. Sejenak marilah kita amati dan cermati keadaan masyarakat kita, mereka tenggelam dalam kemungkaran, kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala di antaranya adanya kasus KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), manipulasi, penipuan, perampokan, pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, adanya pasangan zina PIL (pria idaman lain) dan WIL (wanita idaman lain), penyelewengan/ penyimpangan seks dan lain sebagainya.

Sehingga kalau kita cermati banyak faktor kenapa kemungkaran-kemungkaran itu dilakukan masyarakat. Di antaranya faktor-faktor tersebut ialah:

1. Kebodohan umat terhadap ajaran dien.

Masyarakat kita memang mayoritas muslim tetapi mayoritas pula dari mereka tidak tahu dengan ajaran dien-nya sendiri. Sehingga kita ketahui banyak orang yang mengaku Islam, namun tidak mengetahui apa ajaran Islam itu, apa yang diperintahkan Islam dan apa yang dilarang Islam. Sehingga tidak jarang kita dapati orang yang melakukan kemungkaran namun ia anggap itu hal biasa atau bahkan dianggap sebagai suatu kebenaran. Keadaan seperti ini kalau kita biarkan maka akan terus berlanjut dan masyarakat kita akan tetap tenggelam dalam kubangan lumpur kemungkaran. Tentu kita semua berhasrat merubah keadaan masyarakat kita kepada yang lebih baik dalam takaran syariat Islam. Maka mari kita ajak masyarakat untuk kembali mendalami ajaran dien kembali kepada Islam secara keseluruhan. Firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya saitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208).

Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Thawus, Dhahak, Ikrimah, Qatadah, As-Suddy, Ibnu Zaid; kata (as-silmi) di sini maksudnya Al-Islam.

Menurut Mujahid kata (kaffah) di sini ialah seluruh amalan baik, dalam syariat Nabi Muhammad (Tafsir Ibnu Katsir, 1/335).

Dan juga marilah kita kembali kepada ajaran Islam yang murni yang utuh yang tidak tercampur dengan syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah n kemudian beliau wariskan kepada sebaik-baik generasi, generasi salafus-shalih yaitu para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.
Sidang Juma’ah yang dimuliakan Allah …

2. Lemahnya Iman dan Godaan Syaithan

Perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang melakukan kemungkaran itu ia tidak tahu bahwa itu adalah kemungkaran akan tetapi ada kalanya karena iman yang lemah sehingga lebih cenderung melakukan kemungkaran dengan anggapan “Ah ini cuma dosa kecil.. ah cuma sekali saja”. Dari sini perlu kiranya kita memperkuat iman kita sehingga mampu menangkis segala kemungkaran dan kemaksiatan. Kita bisa bayangkan betapa indahnya hidup ini bila semua lapisan mempunyai iman yang kuat. Yang menjadi rakyat kecil tidak akan mencuri atau merampok walaupun hidup miskin. Karena ia tahu itu akan mendatangkan siksa Allah. Yang menjadi pedagang tidak akan menipu karena ia tahu bahwa menipu itu dosa. Yang menjadi pejabat tidak akan melakukan KKN, karena mereka tahu Allah akan mengadzabnya kelak.

Sidang Jum’ah yang dimuliakan Allah ..
Sebenarnya kalau kita sadari bahwa ketika iman kita dalam keadaan lemah sehingga mudah sekali digoyahkan maka pada saat itu pula sebenarnya kita sedang diincar oleh musuh. Kita tidak bisa melihat musuh kita sedang ia selalu mengintai kita, musuh kita adalah syaithan. Syaithan yang sudah sejak dulu bersumpah akan selalu menggoda manusia supaya terjerumus ke dalam Neraka Jahanam.

Sidang Jum’ah yang dimuliakan Allah .. Demikian tadi dua faktor di antara faktor-faktor kenapa kemungkaran-kemungkaran itu dilakukan manusia.

Kemungkaran itu akan terus berlanjut apabila sama-sama kita biarkan. Tentu kita sebagai seorang Muslim tidak boleh tinggal diam. Karena kita diperintahkan untuk mencegah kemungkaran. Sabda Rasul Shalallaahu alaihi wasalam :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ.
Artinya: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran maka ia harus mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan linsanya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim 1/22).

Dan firman Allah:
Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Imran: 104).

Abu Ja’far Al-Bakir Radhiallaahu anhu berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam membaca kemudian beliau berkata: (Alkhoir) di sini ialah mengikut Al-Qur’an dan sunnahku (Tafsir Ibnu Katsir 1/518).

Ibnu Katsir Rahimahullaah dalam tafsirnya mengatakan: “Hendaklah ada segolongan dari umat ini berada pada posisi ini.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/518).

At Thabari berkata:
§  Al-khair di sini ialah Islam dan syariatnya yang disyariatkan Allah pada hambaNya.
§  Al-Ma’ruf di sini ialah mengikut Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan dien Islam yang dibawanya.
§  Al-Munkar di sini ialah kufur pada Allah, mendustakan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan apa-apa yang dibawanya (Tafsir At Thabari, 4/26).
Juga dalam ayat ini disebutkan hendaklah ada segolongan dari kita yang menyeru kepada kebajikan mencegah kemungkaran. Bagaimana kalau yang melakukan kemungkaran itu dari Sabang sampai Merauke sedang yang menyeru hanya segolongan orang apalagi sendirian, bagaimana kalau yang melakukan kemungkaran itu di Sabang sedang segolongan yang mencegah berada di Mataram atau mungkin yang satu di Jakarta dan yang satu lagi di Maluku. Maka yang namanya amar ma’ruf nahi mungkar itu wajib kita tegakkan bersama dimana kita berada. Firman Allah, artinya:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 110).

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang benar umat di sini umum, yaitu semua umat disetiap zamannya (Tafsir Ibnu Katsir, 1/519). Mujahid berkata: Kamu akan menjadi sebaik-baik umat jika kamu mau beramar ma’ruf nahi munkar (Tafsir Al-Qurtubi, 4/171) Juga firman Allah: “Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan menjadi wali dari sebagiannya, menyeru kepada yang ma’ruf mencegah dari yang mungkar.” (QS. At-Taubah: 71).
Ibnu Taimiyah berkata: Maka wajib atas setiap muslim yang mampu, wajib di sini wajib kifayah dan menjadi wajib ain bagi yang mampu bila tidak ada orang yang melakukannya (Al-Hisbah fil Islam: 12). Maka dalam hal ini mari kita ajak saudara-saudara kita semua kaum muslimin untuk melaksanakan kewajiban ini. Firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”. (QS. Al-Hujurat: 10).

Persaudaraan ini harus tetap dipupuk untuk menyatukan langkah menghimpun kekuatan untuk bersama-sama menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Sidang Jum’ah yang di muliakan Allah ..
Dari permisalan ini dapat kita ambil pelajaran dari ulah segelintir orang yang berbuat kesalahan akan mendatangkan bahaya bagi semuanya, firman Allah:

Artinya: “Dan takutlah kamu sekalian akan siksa yang tidak hanya menimpa orang-orang zhalim saja.” (QS. Al-Anfal: 25)

Kita memohon kepada Allah agar diberi kekuatan bashirah untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, yang ma’ruf dan yang mungkar, kemudian kita bersama-sama menegakkan yang ma’ruf dan memberantas segala bentuk kebatilan dan kemungkaran. Maka di sini saya sampaikan kesimpulan dari khutbah saya:
§  Ada dua faktor dari beberapa faktor kenapa kemungkaran itu terus dilakukan. Pertama yaitu kebodohan umat dari ajaran dien, dan sebagai solusinya marilah kita tingkatkan lagi kesadaran untuk mendalami ajaran dinul Islam ini dan kita ajak umat untuk bersama-sama dengan kita, menggalakkan majelis-majelis ta’lim, pengajian-pengajian yang di dalamnya dipelajari ajaran-ajaran dien dan dikupas segala yang haq dan yang batil, yang ma’ruf dan yang mungkar. Yang kedua adalah lemahnya iman dan godaan syaithan. Untuk itu perlu kiranya kita selalu memperkuat iman kita. Keimanan yang tak tergoyahkan dengan apapun dan mampu menangkis segala bentuk kemungkaran.

§  Beramar ma’ruf dan nahi mungkar adalah kewajiban kita semua, mengingat akibat yang akan ditimpakan kepada kita bila kita meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Kita akhiri khutbah ini dengan do’a.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ. 

Radio Muhammadiyah

Posts Populer

Download Berkas

Free Image Hosting pictures upload

Like Facebook